Alhamdulillah udah kelar semua urusan di
kampus, semoga bisa mengisi aktif lagi biar
nggak bobo blognya dan kita tetap bersama :p
Oke kali ini, aku pengen bahas tentang
nge"judge" atau bisa dibilang ngehakimi atau
lebih sopannya ngenilai tapi dalam konotasi
negatif.
Mungkin kebanyakan dari kita atau malah semua
dari kita nggak suka kalau di 'judge' langsung
tanpa alasan yang benar, misal hanya karena
ngeliat penampilan kita langsung di 'judge' nggak
baik. Atau nge'judge' dari satu sisi aja. Namun,
meski kebanyakan dari kita atau semua dari
kita nggak suka di 'judge' tapi tanpa sadar kita
suka nge-'judge' orang lain. Semacam nggak
berkaca dan tidak relevannya, kita pengen orang
bersikap A sama kita sedang kita nggak
bersikap A sama orang lain. kan sama aja tuh
kita zhalim.
artikel ini tidak ditujukan untuk siapa2 kecuali
untuk saya sebagai pengingat syukur-syukur kalau
bisa jadi pengingat juga bagi temen yang lain
:).
Aku pribadi sih ngerasa aja, kadang suatu
ketika aku nge-judge beberapa orang. hanya saja
itu tersimpan dalam hati dan ditahan untuk
nggak keluar, karena judgement bisa aja berubah
sewaktu-waktu. Ya sejak beberapa tahun yang
lalu aku mulai belajar menahan untuk tidak
langsung nge"judge" karena pernah ada
pengalaman nih. karena judgement yang salah
terhadap orang membuat saya membatasi
interaksi padahal melalui interaksi itu
sebenarnya judgement kita terhadapnya bisa
berubah. Karena judgement yang salah membuat
kita membatasi interaksi dengan kata lain
proses terubahnya judgement kita terhadapnya
akan lebih lama.
Ya semisal judgement negatif kita salah, dengan
tidak nge-judge duluan interaksi kita tetap baik
dengannya, maka judgement itu akan berubah
seiring seringnya interaksi kita dengannya. kalau
dibatasi ya akan lebih lama to. Nah kalau
judgement negatif kita benar. dengan tidak nge-
judge duluan interaksi kita tetap baik dan
judgement kita semakin negatif kita bisa
mengambil jalan sebisa mungkin mengarahkan
dia menjadi lebih baik atau kalau sudah kita
usahakan mengarahkannya ternyata nggak bisa
juga dia berubah kan kita bisa langsung
menghindar sebisa mungkin. memperkecil
interaksi dengan niatan agar tidak terbawa. tapi
akan lebih baik opsi pertama yaitu
mengarahkannya.
Coba sama-sama renungkan ya teman, kalau
seandainya kita udah nge-judge duluan kan jadi
ngambang atau lebih parahnya judgement kita
akan menjadi fitnah. bahaya. :) Intinya sih
kalau mau nge-judge kenalin dulu benar-benar
orangnya. intinya bertabayun alias konfirmasi
jika itu sebuah informasi.
siapa aja pasti nge-judge orang lain atau
infomasi. tetapi ada yang bisa menahan hingga
mengenalnya, atau bertabayun dengan informasi
tersebut. cara nge-judge itu macam-macam bisa
dengan tatapan, cara bicara, bicaranya, sifat
keterbukaan, pembatasan, dan juga secara
tulisan. kadang yang nggak bisa nahan pas
tatapannya nge-judge atau cara bicaranya, sifat
tertutupnya terhadap yg ter-judge namun terbuka
sama yang lain, pembatasan-pembatasan yang
tidak membuat nyaman bagi orang yang di
judge, serta melalui tulisan yang terkadang
berbau keras dengan penilaian sepihak. Nah,
bagaimana kita tetap menilai orang lain tapi
nggak menunjukkan judgement dengan konotasi
negatif pada tatapan, cara bicara, keterbukaan
pembatasan dan juga tulisan.
sebisa mungkin menahan ekspresi, nada,
interaksi antara yang lain dan yang di judge
sebiasa mungkin. kesan-kesan negatif ditahan
agar yang di judge tidak merasa di judge
sehingga interaksi tidak menjadi terbatas.
sehingga bisa kita ketahui kebenarannya judge
kita benar atau nggak, kalau nggak bisa segera
dibenarkan dan jika benar bisa kita arahkan.
dan untuk tulisan sebisa mungkin menggunakan
cara santun, yang tidak mendeskriditkan karena
kita bukan yang Maha Tau loh ya bisa aja
judgement kita salah. selain itu tulisan kita
bisa menggambarkan bagaimana pola pikir dan
watak kita dalam menghadapi suatu masalah :)
sama-sama belajar untuk menjadi yang lebih
baik.. :')






0 komentar:
Posting Komentar